Menurun, Kepuasan
Masyarakat terhadap SBY-Boediono
Menjelang satu tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan
Wapres Boediono, yang jatuh pada 20 Oktober 2010 mendatang, ekspektasi
masyarakat pada pasangan pemenang Pilpres 2009 ini kian mengemuka. Namun,
berdasar survei, ternyata tingkat kepuasan masyarakat terhadap duet SBY-Boediono
ini terus menurun dalam setahun terakhir.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) misalnya, mengungkap tingkat kepuasan
masyarakat terhadap kinerja SBY-Boediono terus menurun selama satu tahun masa
pemerintahannya. “Kalau dilihat dari trendnya, tingkat kepuasan itu terus
menurun,” kata Direktur Eksekutif LSI Dodi Ambardi di Jakarta, pertengahan
September lalu.
Menurut Dodi, kepuasan masyarakat terhadap kinerja SBY sempat mencapai
yang tertinggi sejak terpilihnya menjadi Presiden pada Juli 2009 lalu, yakni 85
persen. Namun angka ini terus mengalami penurunan pada November 2009 menjadi 75
persen hingga Maret 2010 menjadi 65 persen.
Senada dengan itu, tingkat kepuasan masyarakat
terhadap kinerja Wakil Presiden Boediono juga terus menurun, meski sempat naik
pada awal 2010, namun kemudian terus menurun hingga Agustus 2010.
Dodi menyebutkan, faktor pendidikan memberi pengaruh pada tingkat
kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden. Semakin tinggi tingkat
pendidikannya, maka semakin rendah tingkat kepuasan mereka terhadap kinerja
Pemerintahan SBY-Boediono.
Namun, berdasarkan hasil survei yang
dilakukan pada Agustus 2010, tingkat kepuasan masyarakat lebih tinggi yakni
sekitar 66 persen dibandingkan yang tidak puas dengan kinerja SBY, yakni 32
persen dan yang tidak menjawab dua persen.
Penurunan tingkat kepuasan
masyarakat itu, lanjut dia, juga dipengaruhi menurunnya tingkat persepsi
masyarakat terhadap kondisi keamanan dan ketertiban nasional, proses penegakan
hukum dan kondisi ekonomi yang terus memburuk.
"Kelompok masyarakat yang
menilai kondisi keamanan dan ketertiban lebih baik mengalami penurunan dari 59
persen menjadi 55 persen. Begitu pun dengan kondisi penegakan hukum, yang mengalami
penurunan dari 43 persen menjadi 35 persen," ujarnya.
Survei yang menggunakan metode multistage random sampling dengan
responden sebanyak 1.829 responden dan wawancara tatap muka itu diperkirakan
terdapat margin of error sebanyak 2,8 persen.
Responden yang diwawancarai berasal
dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Maluku, Banten, dan lainnya dengan tingkat pendidikan mulai dari SD
hingga perguruan tinggi.
Senada dengan itu, The International Foundation for Electoral Systems
(IFES), lembaga swadaya masyarakat dunia yang fokus mengkampanyekan demokrasi, juga
merilis hasil survei yang intinya menunjukkan popularitas Presiden SBY masih
tinggi, meski tidak setinggi bulan-bulan sebelumnya. Lembaga survei
Indobarometer juga membeberkan hasil survei yang hampir sama.
Menanggapi hal ini, Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan menilai hasil
survei LSI yang menunjukkan penurunan elektabilitas Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono tidak merepresentasikan keseluruhan kinerja SBY.
“Ini hanya masalah teknis saja, yang
seharusnya bisa dimanajemen oleh tingkat pembantu Presiden, karena hasil survei
ini diambil berbarengan dengan berbagai isu yang sedang terjadi. Jadi sangat
mempengaruhi penilaian masyarakat,” katanya.
Meski demikian, Taufik menyatakan
hal ini bisa menjadikan acuan bagi Kabinet Indonesia Bersatu II untuk
memperbaiki kinerja. “Dengan isu-isu yang ada ini memang menjadi suatu acuan
bagi pemerintah untuk meningkatkan kinerja dari masing-masing pembantu
Presiden,” imbuh Taufik.
Taufik mencontohkan kasus ledakan
tabung elpiji yang menjadi salah satu indikator dalam survei tersebut,
merupakan hal teknis. “Untuk masalah seperti ini kan tidak mungkin Presiden
mengawasi setiap hari. Berarti hasil survei ini lebih merepresentasikan kinerja
manajemen yang terkait dengan isu yang terjadi,” jelasnya.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Hayono Isman, mengatakan, hasil
survei yang dilakukan LSI itu akan dijadikan masukan bagi Partai Demokrat agar
pemerintahan SBY-Boediono bisa lebih baik lagi.
Dia sendiri mengaku terkejut dan
heran, meski banyak pemberitaan negatif tentang pemerintahan Presiden SBY,
namun tingkat kepuasan masyarakat masih cukup tinggi, yakni sekitar 66 persen.
Kinerja Kabinet
Kinerja SBY-Boediono memang tidak bisa dipisahkan dari kinerja Kabinet
Indonesia Bersatu II, yang memang bertugas membantu Presiden dalam
mengimplementasikan program-program pemerintah.
Menurut laporan Ketua Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan
Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto, sekalipun kinerja kabinet
sudah meningkat dibanding dua bulan lalu, tetapi hal itu masih menjadi catatan
sebab ada beberapa program pemerintah yang belum berhasil direalisasikan.
Menurut Kuntoro, hasil evaluasi itu
telah disampaikan kepada Presiden SBY. Namun dia menolak mengelaborasi isi
evaluasi tersebut. Dia berdalih, Presiden-lah yang harus lebih dulu mengetahui
dan menyikapi evaluasi tersebut. "Biasanya, hasil evaluasi kerja itu
dibahas lebih dulu di dalam sidang kabinet," katanya.
Dia pun tetap tidak mau menjawab
saat ditanya wartawan soal keberadaan kementerian atau lembaga yang mendapat
"rapor merah". "Janganlah, biarkan Presiden dulu (yang
menjelaskannya)," ungkapnya lagi.
Di tempat terpisah, Guru Besar Ilmu
Politik Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf meminta Presiden SBY tidak
mempertahankan menteri-menteri yang tidak bisa mengatasi persoalan yang
dihadapi rakyat.
Dia menilai mementum satu tahun
pemerintahan bisa dijadikan waktu yang tepat untuk memberikan penilaian terhadap
jajaran kabinet. Namun dia mengingatkan penilaian itu harus dilakukan dengan
obyektif dan bukan karena dorongan dari parpol tertentu.
''Sebab, terlalu menonjolkan
distribusi kekuasaan di antara partai politik juga menyebabkan lemahnya
kabinet,'' ujarnya. “Yang jelas memang harus dievaluasi. Karena banyak yang
meragukan kemampuan beberapa menteri untuk menangani bidangnya itu,'' katanya.
Kata Maswadi, melakukan evaluasi dan
memberikan keputusan untuk merombak atau melakukan reshuffle kabinetnya
merupakan kewenangan presiden. Namun, jelas dia, merupakan tanggung jawab
presiden juga jika hasilnya tidak menggembirakan rakyat. ''Itu merupakan
konsekuensi dari hak prerogatif presiden,'' ujarnya.
Karena itulah, Maswadi menekankan,
segencar apapun isu reshuffle digulirkan oleh parpol, presiden harus tetap
berpegang pada hasil rapor kementerian dan lembaga yang dilakukan oleh UKP4.
Sebab, hasil yang obyektif berdasarkan penilaian yang konkret tersebut
satu-satunya yang bisa dijadikan pegangan untuk melakukan evaluasi. ''Bukan
tekanan parpol,'' katanya.
Apalagi, ujar Maswadi, evaluasi
menyeluruh merupakan hal mendesak yang wajib dilakukan karena pemerintahan
masih harus berjalan di bawah pimpinan SBY selama empat tahun mendatang.
“Soalnya tuntutan rakyat semakin tinggi karena ekonomi yang bermasalah,” ujarnya.
Jika nantinya hasil dari UKP4
menyatakan ada beberapa menteri yang masih tidak becus juga menjalankan
tugasnya, maka sebaiknya diganti dan jangan dipertahankan terus karena
alasan-alasan yang tidak obyektif. “Itu tidak hanya kabinetnya yang rusak, tapi
bangsa Indonesia juga dirugikan,” kata Maswadi.
Ini semua, ujar Maswadi, demi
peningkatan kemampuan rakyat dan hal ini sangat sensitif bagi masyarakat luas.
Meskipun demikian, dia menyatakan ketidaktahuannya akan terjadinya reshuffle
atau tidak. “Memang tak ada satupun orang yang mengetahui itu kecuali presiden.
Saya pikir presiden juga belum tahu,” kata dia.
Namun, Maswadi kembali menegaskan,
yang terpenting bukan ada atau tidak adanya reshuffle, tetapi bagaimana kinerja
para menteri itu menjadi baik. Itu agar nantinya terbukti bahwa yang akan
bertahan adalah mereka yang berprestasi. (Hasyim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar